Ziarah Ke Wali Besar Pendiri Pondok Api Tegalrejo Magelang - KH Cludhori

 



Assalamualaikaum wr.wb

Para pemirsa yang di rahmati oleh Alloh, pada kesempatan kali ini, kami dari kampung aswaja berkesempatan untuk zirah ke makam aulia dan Muasis Nahdlatul Ulama yang ada di kabupaten  magelang tepatnya di komplek Pondok Api tegalrejo yang beralamat di Susukan, Desa Tegalrejo, Kec. Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah
dimakam ini sumare  seorang ulama
Pendiri Pondok pesantren API tegalrojo yaitu KH Cludhori

Nah Siapakah  beliau dan apa saja karomah-karomah beliau? Jangan di skip Simak terus video ini sampai ahir

 

KH Chudlori lahir di Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah dari pasangan Muhammad Ikhsan dan Mujirah. Ia anak kedua dari sepuluh bersaudara. beliau wafat pada tanggal 28 Agustus 1977, dan dimakamkan di komplek makam keluarga Pesantren API Magelang.

 Beliau tercatat pernah nyantri diberbagai pondok pesantren ternama seperti Pesantren Payaman yang diasuh KH. Siroj ,pesantren Kuripan di bawah asuhan KH. Abdan, pesantren Kiai Rahmat di daerah Gragab kemudian nyantri ke Pondok Tebuireng yang waktu itu diasuh Hadratussyekh KH. Hasyim Asy'ari.

pada tahun 1933, ia pindah Pondok Bendo, Pare, Kediri, menjadi santri Kiai Chozin Muhajir. Empat tahun berikutnya, ia mengaji di Pesantren Sedayu, kemudian, ia nyantri lagi ke Pondok Lasem, Jawa Tengah, yang diasuh KH. Ma'shum dan KH Baidlowi.

Nah untuk mengetahui tentang KH Clhudori, berikut adalah beberapa keistimewaan Beliau yang kami rangkung dari berbagai sumber

1.     Cara belajar yang unik

Saat Mondok di Pesantren Tebu ireng, di kamarnya ia membuat kotak belajar khusus dari papan tipis dan menempatkan kotak tersebut diantara loteng dan atap. Kapan saja bila ingin menghafal atau memahami pelajarannya, Chudlori naik dan duduk di atas kotak sehingga bisa berkonsentrasi dengan baik. Kotak ini sempit, tidak nyaman dan berbahaya untuk duduk. Jadi dengan kedisiplinan dia dapat belajar setiap hari hingga tengah malam. Kapan saja tertidur sebelum tengah malam, dia menghukum dirinya sendiri dengan berpuasa pada hari berikutnya tanpa makan sahur.

2.     Hidup sederhana

Saat Pesantren Tebuireng, kedua orang tuanya kerap mengirimkan bekal sebesar Rp 750 per bulan kepadanya sebagai bekal. Jumlah tersebut bisa dibilang cukup banyak pada masa itu. Namun, santri yang gigih dalam menuntut ilmu itu hanya menghabiskan rata-rata Rp 150 per bulan. Sisanya kemudian dikembalikan kepada ayah dan ibunya.

Sebab, Chudlori di Tebuireng mengamalkan prinsip kesederhanaan. Ia biasa memakan singkong dan minum air yang digunakan untuk merebus singkong tersebut. Mungkin, orang-orang akan mengiranya berlaku terlalu hemat untuk dirinya sendiri.

3.     Pesantren Pernah di bakar habis belanda

Pada tahun 1947, ketika Belanda melakukan Agresi Militer, Pesantren API menjadi benteng perjuangan mempertahankan kemerdekaan oleh para gerilyawan. Bahkan Chodlori yang kini sudah bergelar kiai, mengizinkan santrinya untuk turut berjuang. Aktivitas belajar-mengajar dihentikan untuk sementara waktu. Karena perjuangan itu diketahui Belanda, pesantrennya kemudian dibakar habis. Santri, keluarga, dan Kiai Chudlori sendiri mengungsi dari satu desa ke desa lain. Kemudian di tahun 1949, ia kembali ke desanya dan mebangun kembali pesantren. Prmbangunan kali ini, dibantu warga masyarakat yang telah bersimpati pada perjuangannya. Santri pun bertambah banyak. Pada tahun 1977, ia memiliki sekitar 1500 santri. Di tahun tersebut, pesantren API sedang berkembang pesat, tapi di tahun itu pula Kiai Chudlori dipanggil yang Kuasa. (Abdullah Alawi, dari berbagai

Nah demikianlah beberapa Keutamaan yang dimiliki oleh KH C;udhori. semoga dengan sowan ke makam beliau kita akan mendapatkan barokahnya di dunia dan di ahirat.

wallohualam bisowab.

 Wassalamualaikum wr.wb

 

 

Rev

https://www.laduni.id/post/read/66604/biografi-kh-chudlori

https://www.nu.or.id/tokoh/kh-chudlori-santri-kelana-pendiri-api-tegalrejo-xtSIO





Komentar